Novel Terbaru : Rindu Gus Dur Toleransi Beragama

okbuku.com Novel Terbaru : Rindu Gus Dur “Toleransi Beragama” – Perdebatan ini dimulai dari agresi 212 mereka menyebutnya alumni agresi 212 dan hingga dikala ini kisah ini terus berlanjut, mereka menyebutnya Bela Islam saya sangat baiklah apabila memang benar-benar bela Islam namun terkadang ada banyak buntut dari kelanjutan kisah itu mulai dikaitkan dengan politik hingga dengan warta SARA lainnya, terkadang saya merasa sangat sedih melihat Negeri tercinta ini, tidak mirip dulu lagi.
Banyak yang berubah terutama pandangan kita sebagai umat beragama, Dulu kita hidup dalam satu rumpun NKRI dengan bermacam-macam suku bangsa dan budaya termasuk keberagaman Agama, tidak ada yang mempermasalahkan namun semua itu mulai berubah dikala ada salah satu tokoh dari non muslim yang mencalonkan diri sebagai pemimpin di Ibukota.

Novel Terbaru Rindu Gus Dur “Toleransi Beragama”
Semua belum terasa mirip penolakan ataupun lainnya, dikala sesudah tersiar kabar penistaan terhadap AL-Quran semua menjadi berbeda, mulai saling jatuhkan antar kelompok hingga dengan agresi balasan, Aku kira semua akan berakhir apabila yang menuntut sudah mendapat tuntutannya namun semua kembali pecah, kini giliran pihak lain yang kembali diserang.
Aksi saling serang dari mulai masalah Penistaan Agama hingga dengan Kasus Chat esek-esek menjadi salah satu bentuk agresi saling serang ditambah dengan beberapa kali agresi mirip demo besar-besaran 212 dan seterusnya sesudah yang dituntut divonis bersalah giliran agresi 1000 lilin yang kembali muncul bahkan niat untuk menggulirkan agresi jawaban kepada pemimpin yang memberi tuntutan sedang dimunculkan.
Mulai dari Pelecehan atribut negera hingga dengan isi chat yang tidak pantas, semua itu rangkaian agresi yang menciptakan saya merasa bahwa kita terlalu sibuk dengan hal yang tidak penting. Belum lagi ditambah dengan Dalang dibalik Internet marketing mereka mendulang laba besar dari kisruh perpecahan ini mengingat ramainya diperbincangkan.
Mereka seolah menjadi bensin yang akan terus menjaga api biar tetap menyala besar, mirip beberapa metode viral menciptakan konten yang menjadi sentra perhatian terkait dengan hal tersebut hingga dengan ada banyak web yang memposting hal serupa mengenai perbedaan beragama di Indonesia.
Ini bukan sebuah opini atau kritik penas untuk pemerintah, hanya sebuah novel yang ditulis rakyat kecil yang tidak mempunyai kemampuan untuk menciptakan suasana menjadi cair, untaian isi hati yang mungkin di dengar oleh sebagain besar yang sependapat ihwal semua ini. Apakah memang harus kita hidup dalam sebuah perdebatan perbedaan Agama atau malah ini yang akan menciptakan Indononesia mulai terpecah.
Entahlah yang niscaya saya sebagai orang Indonesia yang lahir di Indonesia dan angkatan 90an menginginkan yang terbaik, Dari suasana yang mirip kini ini terkadang saya Merindukan Sososk KH Gusdur, saya memang tidak mengenalnya dan juga tidak hidup diera dia namun pesan yang dia sampaikan masih tetap hidup dalam masyarakat Indonesia.
Aku mendengar kisah dia dari salah satu keturunan China yang ada di Indonesia dia menceritakan mirip apa Sosok Gusdur dimata mereka, dan saya juga sering mendengarkan kisah mereka yang di bersahabat Gereja ihwal Sosok KH Gusdur, bahkan KH Gusdur namanya selalu disebut oleh mereka yang beragama Budha.
Saat saya SD dia menjadi presiden dan dikala saya menginjak dingklik sekolah menengah atas dia meninggal dunia, saya benar-benar tidak mengenal secara eksklusif siapa KH Gusdur Almarhum, bahkan kisah dan kisah kepemimpinan dia mulai terdengar dikala masalah perpecahan NKRI terjadi mirip kini ini.
Lagi-lagi saya sebelumnya tidak begitu tau siapa itu KH Gusdur yang saya tau hanya dia yaitu satu-satunya pemimpin bagi semua golongan dan semua agama. Bahkan saya tidak pernah membaca biografinya secara lengkap sosok dia dan perjalanan hidup dia mirip apa, tapi saya merasa bahwa saya lebih mengenal almarhum dan lebih bersahabat dan kisah dia selalu hidup dalam setiap orang.
Bahkan agama lain mirip mereka yang beragama Kongucu, Budha, Katolik, dan Agama lain selain Islam lebih mengenal belau, tidak ada yang mempermasalahkan Agama dia umat beragama bukan mengenal sosok dia sebagai pemimpin umat islam di Indonesia tetapi lebih kepada pemimpin umat beragama yang ada di Indonesia.

Jika kita selalu melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja tentu fatwa akan semakin sempit, Jika kita menyampaikan bahwa kita orang Muslim menyebut agama lain yaitu kafir, hal yang sama akan terjadi agama lain juga berpandangan sama tentu pembahasan mirip itu tidak akan ada habisnya. Urusan agama tidak ada sangkut paut dengan urusan negara.

Seadainya saja kita sebagai umat beragama menjunjung tinggi nilai pancasila dan benar-benar menerapkan nilai tersebut maka tidak akan terjadi mirip kini ini, mirip pola apabila kita merasa bahwa pilihan merupakan hak diri pribadi maka pilih saja sesuai dengan hati tidak perlu berkoar-koar untuk melaksanakan hal yang menimbulkan perdebatan dan semuanya akan selesai.

Entah kenapa dikala ini saya merasa perbedaan agama menjadi salah satu perbedaan yang tabu, jikalau ingat dahulu dikala saya masih sekolah SMA, pernah berpacaran dengan seorang gadis yang mungkin tidak bisa disebutkan namanya sebab kini sudah menjadi istri orang lain, namun kisah kami tidak akan hilang ia akan menjadi sebuah kenangan indah dan sejarah yang tidak pernah dilupakan.

Kisah ini bermula dikala saya mulai diremehkan sebab pacar ku sebelumnya tidak anggun jadi berdasarkan sahabat satu gengku bahwa selera ku rendah dalam menentukan pasangan, dikala itu saya tidak eksklusif murka dengan apa yang sahabat ku katakan, saya hanya tersenyum sendu sambil menahan diri untuk tidak meluapkan rasa murka itu, saya sadari bahwa pasangan ku kala itu memang sangat biasa, ia tidak putih, tidak juga cantik, dan juga tidak tinggi bisa dibayangkan tidak ada yang Istimewa dari sang gadis.

Namun meski bagi orang sangat biasa namun bagiku dia yaitu sosok yang luar biasa membawa saya jadi mirip sekarang, menjadikan ku lelaki keren yang sebelumnya hanya anak culun yang tidak punya teman, ia mengajarkan ku banyak hal ihwal arti cinta, cara bergaul dengan teman, berfikir masa depan, ia yaitu sosok perempuan yang sangat remaja meski usianya gres belasan tahun.

Aku mencintainya bukan sebab tidak ada yang mau dengan ku, sebab saya yaitu seorang yang sangat besar lengan berkuasa disekolah ku, popularitas ada di genggaman, apabila saya menginginkan yang lebih anggun sudah niscaya itu duduk masalah praktis tetapi tetap saja saya menentukan si gadis, dikala itu saya menyebutnya si Hitam Manis, bagiku dia yaitu sosok perempuan yang sempurna.

Sampai jadinya kami berpisah sesudah duduk masalah kesalapahaman kecil, namun duduk masalah mantan selalu jadi ungkitan masa sekarang, bahkan rata-rata sahabat bersahabat ku menyampaikan kata pedas mirip “Jika mereka ingin mencari pacar mirip mantan ku itu sudah niscaya mereka akan mendapat dengan sangat praktis dan banyak” kata-kata itu yang menciptakan hati ini rasanya disayat bukan hanya sekali semua kata mirip itu terlontar beruangkali.

Terutama ada satu orang yang tidak lain yaitu sahabat semakan seminum ku, berulang kali ia menyampaikan bahwa memang selera ku dalam menentukan pacar rendahan, namun saya tidak pernah merasa dendam yang ada dalam pikiran ku yaitu membuktikan bahwa penamilan bukan segalanya dikala saya menentukan pasangan sebab prioritas lebih kepada sikap yang mereka miliki, pembuktian itu terus menempel dalam hati.

Sampai jadinya saya memutuskan untuk mencari tau siapa orang yang sangat dicintai oleh sabahat ku itu, sesudah beberapa ahad saya menemukan salah satu nama sang gadis yang kebetulan merupakan gebetan dari sahabat ku itu, memang tragedi itu berlangsung berbulan-bulan lamanya hingga saya mempunyai kesempatan untuk bertemu siapa sosok gadis itu, ternyata buntut kisah dari gadis lain itu memang sangat panjang.

Diceritakan ada seorang gadis yang sekaligus cewek tercantik yang ada disekolah lain bukan daerah kami sekolah memang sekolah itu sangat elit, jikalau diibaratkan paras cantinya mirip artis cilik yang terkenal pada masa itu, usut punya usut ternyata gadis anggun itu merupakan idola para laki-laki disekolahnya termasuk sahabat ku, namun dari sekian banyak laki-laki yang menyukai gadis itu tidak ada satupun yang mendapat jawaban iya darinya bisa dibilang bertepuk sebelah tangan.

Itulah nasib sahabat ku, memang saya akui bahwa sahabatku penamilannya sangat luar biasa putih, tinggi, keren dan idolah para perempuan disekolah, sayangnya tidak berlaku cintanya pada sang gadis itu, biar ngak gundah kita sebut dia Via gadis anggun yang sangat mempesona, awalnya saya tidak mengenal gadis itu dan tidak tau sama sekali dan juga tidak ada niat khusus untuk mencoba kenal dengan si Via.

Namun takdir berkata lain sebagai seorang ketua osis, saya dipercaya untuk menyusun aktivitas kegiatan tahunan dimana salah satunya yaitu menyusun, studi banding ke sekolah lain, isi dari studi banding tersebut yaitu mengusung tema Softskill dan Akademik, dimana olahraga serta lomba debat menjadi pilihan ditambah dengan pentas seni mirip grup band dan kesenian lainnya.

Kesempatan berhaga ini tidak saya sia-siakan sebab dari 10 sekolah yang dipilih salah satunya yaitu sekolah Via dari sana saya mulai menyusun seni administrasi sembari melaksanakan kiprah dari sekolah dimana saya mengikuti dan mengisi beberapa aktivitas mirip ketua lomba debat dan ketua untuk studi banding olahraga, hal itu nampaknya memang keberuntungan dikala itu berpihak pada ku, ternyata si Via merupakan salah satu Sekertaris Ketua Osis yang ada di sekolah tersebut.

Hal hasil semua kegiatan yang berkaitan studi banding disekolahnya tentu dipersiapkan oleh Via dan Tim sementara sekolah kami mempercayakan saya untuk mempersiapkan hal tersebut bersama dengan tim lainnya. Semua itu berlangsung sekitar 1 bulan pada jadinya hingga pada hari H yaitu aktivitas Studi Banding Antar Sekolah, di provinsi ku, namun tanggalnya saya sendiri sudah lupa.

Inilah yang moment yang tidak terlupakan sebab dikala itu tim dari sekolah kami yang dipimpin eksklusif oleh saya memenangkan debat terbuka disekolah tersebut dan yang menjadi rival yaitu sekolah Via si gadis idaman cowok-cowok yang menjadi ketuanya langsung, diakhir kegiatan debat terbuka tanpa diduga si Via mengejarku dari kejauhan.

Ia menyapa dengan keras mirip “Kakak tunggu” nampak lari terburu-buru ternyata ia hanya ingin berjabat tangan dan mengucapkan selamat atas prestasi yang saya raih terutama dikala debat bahkan dia menyampaikan bahwa saya sangat keren dan bisa membuatanya kagum, ia dengan jujur menyampaikan bahwa dia sangat terkesan dengan caraku memberikan argumen dan pendapat, dari pertemuan itu saya mulai diajaknya berkeliling sekolah sembari berbincang-bincang.

Namaku mulai terkenal bahkan semua mata dikala saya diajak berkeliling ditemani oleh gadis yang gres saya kenal yang tidak lain yaitu Via gadis paling anggun disekolah itu menciptakan semua orang iri pada ku, padahal saya tidak pernah mengira bahwa ternyata bukan saya yang mengajak berkenalan lebih dahulu malah si gadis.

Padahal kalau melihat dari tampang yang saya punya bagaikan bumi dengan langit, tidak ada yang bisa saya banggakan dari penampilan ataupun harta yang saya miliki, satu-satunya yang bisa saya gunakan untuk mencuri perhatian orang yaitu kemampuan dan karismatik ku, nampaknya sejauh ini semua itu berjalan dengan lancar bahkan diluar dari asumsi dengan cepat saya mengenalnya.

Bahkan sesekali saya menggodanya dengan menanyakan mengapa dia sangat terkesan kepada ku sampai-sampai mengajak ku kenalan lebih dahulu padahal ia yaitu gadis luar biasa, ternyata alasannya sama dengan ku, dia menilai seseorang tidak hanya fisik atau penampilan semata tetapi lebih kepada sisi lain mirip sikap, sikap dan kemampuan yang dimiliki.

Pertemuan dan bincang singkat kami tanpa disadari mempunyai banyak kesamaan, bahkan semua sahabat satu sekolah terutama pemuda menuduh ku mengguna-gunai si Via biar dia suka pada ku, namun semua itu tidak begitu saya pedulikan, dalam hati saya hanya berfikir bahwa semua rencana yang saya inginkan nampaknya direstui oleh Tuhan dengan sangat cepat.

Bahkan dipenghujung pertemuan kami waktu itu ia sendiri yang meninta konta nomor ponselku, namun waktu itu tadak mirip kini sudah banyak gadget murah dan bertebaran, mereka yang mempunyai ponsel hanya kalangan elite sebab harga ponsel waktu ini setara dengan harga iPhone keluaran terbaru, apa daya saya tidak mempunyai ponsel.

Tetapi tidak mengalah begitu saja sebab sahabat ku mempunyai ponsel ia yaitu orang kaya dengan cepat saya meminjang ponselnya dan bertukar nomor hp tanpa diketahui pemiliknya hehe, padahal sahabatku merupakan penggemar terberat si Via, dari sana si Via sering menghubungi ku untuk sekedar berdiskusi mengenai aktivitas tahun osis disekolah.

Sebagai mediator sahabat ku, dengan laba itu saya gunakan kesempatan untuk membuktikan kepada setiap orang terutama mereka yang pernah menghina ku sebab selera ku dalam menentukan pasangan sangat payah, hal hasil pembuktian itu berhasil dan saya tidak lagi dihina oleh teman-teman ku terutama sahabat ku bahkan ia menarik kata-kata yang dulu ihwal mantan ku.

Semua sasaran ku berjalan sesuai rencana dan tidak ada lagi tujuan ku, karen hanya satu saya hanya ingin membuktikan bisa mendapat gadis yang saya inginkan meski muka ku pas-pasan dan tidak juga kaya, tidak juga putih hanya biasa-biasa bahkan mendapat gadis idaman yang tidak bisa didapat oleh banyak orang.

Aku kira semua sudah usai, langkah selanjutnya yang harus dilakukan yaitu menjauhi si Via sebab terget ku dan pembuktian atas harga diri ini sudah selesai, sebelumnya sesuai rencana tetapi dikala saya memutuskan untuk menjauhi Via ternyata hal itu diluar dari asumsi ku, bahkan diluar dari kemampuan ku, mirip kata pepatah mungkin benar saya sudah terlanjut jatuh cinta.

Apalagi jatuh cinta kepada seseorang yang sangat anggun dan diidamkan banyak laki-laki lain mungkin ada berbagai orang mengincar posisi ku dikala itu, saya tidak bisa menjauh darinya dan jadinya kisah kami berlanjut pada hubungan pacaran, dari sinilah saya memulai hidup dari sebuah kisah yang tidak biasa.

Kami memang mempunyai banyak persamaan namun ada banyak perbedaan yang berdasarkan kami sulit untuk bersatu, tetapi kenyataan semua bisa berjalan harmonis, saya juga tidak pernah menyangka jikalau si Via yaitu gadis non muslim sebab saya sering melihatnya di aktivitas sekolah mirip peringatan Isra Mirad, Maulid Nabi, Bahkan aktivitas kultum Ramadan ramadhan, ia terlihat menjadi panitia penyelenggara.

Memang diakuai bahwa dia aktiv di organisasi osis, namun saya tidak pernah mengira bahwa dia beragama Katolik, bahkan alasan Via membantu teman-teman muslim mereka sangat menyentuh hati supaya mereka yang beragama Muslim sanggup menjalankan ibadah dengan khuyuk tanpa memikirkan jadi panitia bahkan seringkali mereka yang beragama non muslim lainnya diajah Via untuk membantu teman-teman muslim baik itu jadi panitia atau penyusun acara.

Terutam mereka cowok-cowok yang dimintai tolong olehnya, meski non muslim tapi tetap saja saling membantu, padahal saya sendiri merupakan salah satu Muslim yang sangat panatik dengan agama selain Islam, tetapi melihat kesungguhan Via saya sangat tersentuh, terkadang dalam hati ini sering terpikir mengapa tidak sekalian masuk Islam hehe sambil berharap.

Aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepadanya apakah ia melaksanakan semua itu dengan tulus dan Via menjawab dengan tegas dan lembut bahwa semua itu dilakukanya dengan Ikhlas, bahkan sangat sering saya bertanya kepada Via mengapa tidak masuk Islam sekalian, jawaban ia sangat sederhana, saya terlahir sebagai Nasrani dan itu yang diajarkan orang bau tanah ku dan Aku meyakini agama ku tanpa meragukannya.

Tetapi Agama kami mengajarkan untuk berbuat baik kepada siapa saja tanpa terkecuali, rasanya saya ingin menangis menengarkan dia, ia sangat mengimani agama dia yang dibawah dari lahir hingga dikala ini namun tidak pernah ragu untuk membantu orang Muslim, kalau boleh jujur jikalau saya yang diminta untuk melaksanakan hal sama di Gereja sudah niscaya saya menolaknya.

Aku mulai mengaguminya bahkan dia tidak pernah diminta eksklusif semua dilakukan dengan tulus membantu, awalnya saya merasa sangat panatik dengan agama ku dan menolak keras agama lain namun, dia mengajarkan banyak hal ihwal arti berbedaan, hubungan kami berjalan sangat usang tanpa terasa kami berpacaran 1 tahun, bahkan saya juga mencoba untuk melaksanakan hal sama menjaga agama kami masing-masing tanpa ikut campur tangan tetapi saling membantu.

Tidak jarang dikala hari ahad saya berkunjung kerumahnya dan dikala yang sama ia tidak ada yang mengantar untuk pergi beribadah ke Gereja, apun sebagai umat Muslim yang taat tentu berat tetapi melihat ia dan keseungguhan hati sering membantu kami umat Muslim jadinya hati ini tergerak untuk mengantar bahkan sepulang dari Gereja saya menjemputnya kembali.

Mereka sesama Umat Nasrani sangat menghargai ku dikala menunggu agak jauh dari Geraja, sebab hati ini tetap saja merasa dek dekan dikala menengarkan suara Geraja namun mereka memahami betul Saya Muslim dan tidak pernah menjauhi bahkan saya diberikan daerah untuk menunggu dilaur Gereja oleh mereka.

Semua terasa sangat indah, dari sana saya mencar ilmu arti perbedaan sesunggunya menjaga keyakinan masing-masing namun tetap saling membantu sesama manusia, itulah banyak hal yang saya dapatkan dari sebuah perbedaan, antar Umat Islam dan Umat Kristen, semua berlangsung begitu cepat kami berpacaran tanpa terasa 2,5 tahun bahkan 3 kali puasa Ramadhan saya bersamanya.

Saat saya berpuasa selama satu bulan penuh saya dibangunkan oleh Via membangunkan ku dikala sahur meski ia tidak ikut sahur, sesudah berlajan beberapa tahun jadinya jaman sudah mulai berubah saya tidak lagi meminjam ponsel ke sahabat ku sebab sudah punya sendiri meski hanya bisa membeli Nokia Cepek itu cukup mejadi saksi bisu atas perbedaan yang kami miliki.

Kisah kami berkahir dikala sesudah dia masuk kelas 3 Sekolah Menengan Atas Semester 2 ruang IPA orang tuanya memutuskan untuk memindahkannya ke Jogja sedangkan saya tinggal di Palembang jikalau dia tidak pindah mungkin kami masih bersama, tetapi takdir berkata lain, terkahir kami bertemu lagi sesudah 2 tahun berpisah.

Di Kota Palembang ingat sekali dikala itu Jumat siang pesawat dari Jogja masuk pukul 11 lewat Via meminta ku untuk menjemputnya di Bandara sementara hari sudah hampir menerangkan waktu sholat jumat dengan bijak ia bersedia menunggu ku sesudah sholat jumat dan menunggu berjam-jam di bandara, meski ia non muslim Via sangat menghargai Agama yang saya yakini dan menungkung penuh.

Begitu juga saya sebaliknya urusan agama kami tidak pernah campur adukan biarkah urusan agama menjadi keyakinan masing-masing dan tetapi menjalani apa adanya hubungan ini, namun kisah kisah kami hanya hingga bertemu hingga jadinya saya membuka beberapa file usang ku hari ini, dan membuka beranda fb Via yang dikala ini sudah punya satu anak tapi bukan dari anak ku itu yaitu anak dari buah cintanya dengan suami sekarang.

Sementara saya senang punya satu anak dengan istriku dikala ini, malam pukul dua malam saya menulis ini denga latar belakang melihat file lama, saya menulis ini bukan sebab saya merindukan Via berdosa bila saya merindukan orang yang sudah menjadi istri orang lain, tetapi saya rindu dengan cara dia mengormati perbedaan bergama dan suasana seprti itu saya rindukan.

Bahkan Via sendiri yang sering bercerita kepada ku sosok Alm KH Gusdur dimana mereka sebagai keturunan Tionghoa menceritakan sebagai hero yang memperjuangkan kehidupan mereka, dari KH Gusdur lah dia mencar ilmu menghargai sesama umat beragama, jadi apabila saya ingat dengan Via dari mana ia mencar ilmu menghargai perbedaan, maka salah satunya dari sosok Gusudur.

Kisah ini merupakan kisah konkret kehidupan ku, Aku mengenal sosok pemimpin Agama Ku malah bukan dari hanya dari sesama muslim tetapi saya banyak mendengarnya dari Via Seorang Gadis yang saya cintai dulu Non Muslim ia lebih mengenal KH Gusdur Alm dari pada saya yang muslim. Semua itu mengingatkan ku dikala kini ini entah masih bisa atau tidak hidup berdampingan dalam sebuah perbedaan namun tetap saling meghargai satu sama lain.

Mungkin jikalau kita yang sudah pernah melewati hidup di Jaman semasa KH Gusdur Hidup dulu mungkin kalian akan mencicipi Hal sama apabila melihat kondisi kini ini kita selalu diributkan dengan duduk masalah perbedaan Agama, padahal urusan politik bukan urusan agama. Bangsa Indonesia dikala ini terkotak-kotak dengan duduk masalah perbedaan agama. Dalam Hati kecil ini sering berandai-andai meski itu dihentikan dalam agama Ku “ISLAM”.

Tetapi itulah yang sedang saya rasakan dikala ini Seandainya KH Gusdur Masih ada kini mungkin kita tidak akan pernah berdebat dengan duduk masalah perbedaan Agama, Sosok dia diterima diagama manapun dan diakui bisa mempersatukan semua Agama mendengarkan Beliau berbicara, meski tidak akan ada yang bisa menggantikan sosoknya dan tidak akan tergantikan, minimal berharap kedepan ada pemimpin yang mewarisi kemampuan untuk mempersatukan seluruh umat dalam satu yaitu Indonesia dan NKRI. Semoga kisah ku ini bisa mengingatkan bahwa kita ini yaitu NKRI jangan hingga dipecah bela dengan kepentingan tertentu.

Power by

Download Free AZ | Free Wordpress Themes

Scroll to Top