Cerpen : Berpisah Bukan Untuk Saling Menyakiti

Cerpen : Berpisah Bukan Untuk Saling MenyakitiBALADA PUAN – Semua berawal ketika hujan meruntuhkan dirinya dikala senja. Semesta seakan tahu apa yang tengah sang puan rasakan ketika menyendiri di cafe ini, ditemani oleh secangkir green tea hangat kesukaannya, sang puan mulai mencicipi gemuruh di hatinya serta memori di otaknya seakan menampilkan rindu dengan sang tuan yang sudah usang tidak menawarkan kabar kepadanya.
Hingga, terdapat seorang pria berbadan tegap, dengan kemeja kotak-kotak, berjalan menghampiri sang puan seraya berkata, “Hai Ra, apa kabar?”
Sang puan termangu dan terpaku melihat sesosok yang tengah berdiri dihadapannya kali ini. Dengan senyum yang cukup canggung, sang puan membalas, “Ee-h baik kok, lo sendiri gimana Rey?”

“Yaa, alhamdulillah. Oh iya, gimana kabar nenek? Masih suka bikin kopi sendiri?” tanya Rey pada Dara yang tengah menyeruput green tea nya.
“Nenek baik kok, kapan kapan mampir aja kalau lagi luang Rey. Nenek niscaya kangen banget sama lo hehe.” ujar Dara sekenanya.
Memang dulu, Dara pernah menceritakan sang Nenek pada Rey. Nenek Dara yang gemar sekali mengolah kopi sendiri. Dimulai dari menanam biji kopi, sampai diolahnya biji tersebut menjadi minuman kopi dengan ciri khas tersendiri bagi Rey sang pecinta kopi.
“Wah Nenek aja kangen ya sama gue, apalagi cucu kesayangannya ini ya hehe.” goda Rey pada Dara.
Dara hanya bisa menanggapi ucapan Rey dengan senyuman manis yang mengembang dibibirnya yang mungil.
Dara dan Rey. Pada masa lampau, dua manusia ini memutuskan untuk menjalin kekerabatan sebagai sepasang kekasih. Dahulu mereka merupakan pasangan yang cukup romantis pada masanya. Hingga mereka memutuskan untuk mengakhiri kekerabatan tersebut sempurna sesudah 1 tahun mereka berhubungan.
Alasan yang cukup klise memang, mereka berpisah alasannya ingin mengejar harapan mereka masing masing. Dara dengan dunia psikologinya di salah satu kampus yang ada di kota Malang. Dan Rey, yang memutuskan untuk kuliah di kota kelahiran sang Bunda, yaitu kota Jogjakarta.
Dara akui ia tidak se-berani itu untuk melanjutkan kekerabatan mereka dengan status long distant relationship. Tidak, bukan berarti Dara tidak mempercayai Rey, dan begitupun sebaliknya. Baik Dara maupun Rey, mereka sama- sama tidak ingin terjadi hal-hal yang bisa menyakiti hati satu sama lainnya. Sehingga, mungkin keputusan untuk mengakhiri kekerabatan tersebut yaitu pilihan yang terbaik. Mungkin.
“Mmm. Masih suka sama green tea Ra?” tanya Rey untuk memecah keheningan diantara mereka berdua.
Sedangkan Dara, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang Rey ajukan.
Melihat suasana yang semakin canggung, menciptakan Rey terpacu untuk mencari topik obrolannya dengan sang mantan yang ada di depannya kali ini. Hingga tak terasa, waktu terus berjalan, senja mulai tergantikan dengan gelap dan dinginnya semilir angin di malam hari. Yang disusul dengan turunnya hujan yang cukup deras, menciptakan Dara terpikirkan untuk segera pulang alasannya niscaya sang Bunda tengah menunggunya kali ini.
“Mmm, gue kayaknya pamit duluan ya Rey, Bunda niscaya nyariin nih.” ujar Dara sambil bersiap untuk meninggalkan cafe tersebut.
“Eh tunggu Ra, gue anter aja ya?” tawar sang tuan pada puan.
“Nggakpapa Rey, gue bisa pesen ojek online kok.” jawab Dara yang merasa tidak yummy dengan penawaran Rey.
“Ra, lo tau kan gue gak suka penolakan? Udah ah ayo keburu hujannya makin deres nih.” Rey dengan cepat menarik lengan Dara dan segera berjalan menuju mobilnya yang tengah terparkir di depan cafe tersebut.
Selama perjalanan, baik Dara maupun Rey mereka menentukan untuk termangu ditengah kemacetan malam kali ini. Mereka seakan terjebak dengan fatwa mereka masing-masing. Hingga tibalah mereka disebuah rumah dengan secara umum dikuasai warna putih serta aksen modern, yang terlihat sederhana. Disinilah mereka, tiba di depan rumah Adara.
“Hmmm, makasih ya Rey atas tumpangannya, mm- gue masuk duluan ya.” pamit Dara kepada sang pria yang ada di sampingnya kali ini.
“Eh Ra tunggu!”
Sebelum Dara membuka pintu kendaraan beroda empat dan berjalan masuk kearah rumahnya, ia menoleh ke sumber bunyi seraya berkata, “Ada apa Rey?”
“Mmm boleh minta id line lo nggak? Siapa tau kalau gue lagi butuh temen ngobrol lagi gitu?” tanya sang tuan sambil menunjukkan handphonenya pada sang puan.
“Ee-h id line gue tetep kok Rey, AdaraFr. Hmm udah yaa, Bunda udah manggil, gue masuk duluan. Hati-hati dijalan Rey!” ucap Dara sambil berjalan masuk menuju pekarangan rumahnya.
Saat ini, Dara tengah berada di dalam kamarnya sambil berkutat dengan laptop serta kiprah kuliah yang setiap hari menumpuk. Untungnya, Dara ditemani oleh secangkir green tea buatannya sendiri yang bisa menawarkan ia semangat.
Ting!
Sebuah notifikasi mulai muncul di handphone Dara. Dan notifikasi tersebut berasal dari Rey, ya menyerupai dugaan Dara. Sejak insiden di depan rumah Dara 3 ahad yang lalu, baik Dara maupun Rey tidak pernah mangkir untuk menawarkan kabar satu sama lain. Dan tidak jarang pula, Rey menawarkan perhatian-perhatian kecil pada Dara. Perhatian kecil yang bisa menciptakan hati seorang Adara Freisha menjadi terombang-anbing.
Rey juga suka berkunjung kerumah Dara untuk sekedar membelikan Dara makan jikalau ia tengah sibuk dengan tugasnya sampai lupa untuk sekedar makan malam. Dan, Rey yaitu orang yang selalu ingat akan hal itu. Dara akui, ia terbawa perasaan pada Rey walaupun tidak ada kejelasan dalam kekerabatan yang terjalin diantara kedua manusia tersebut.
Reynand : lagi apa ra?
Reynand : gue gabut nih
Reynand : abis main ps sama adit trus si doi kalah
Reynand : eh dianya yang murka marah gajelas ke gue
Dengan cepat Dara membaca pesan tersebut, disertai senyuman hangat, ia mulai membalas pesan dari Rey.
AdaraFr : HAHAHHAH
AdaraFr : rasain lu
AdaraFr : btw gimana kabarnya si Adit?
AdaraFr : masih suka modusin cewek nggak kayak abangnya? Eh
Reynand : ih gue mah nggak pernah ya modusin cewek
AdaraFr : lah sok lupa lagi
AdaraFr : trus apa kabar tuh si fey yang lo ajak nonton kemarin Rey?
Dara memang sempat melihat instagram stories Rey yang menampilkan bahwa ia tengah berada di sebuah bioskop bersama seorang wanita bertubuh mungil dan berambut panjang yang Dara ketahui, wanita tersebut yaitu Fey, sobat Sekolah Menengan Atas mereka dahulu. Melihat instagram stories Rey tersebut, tidak sanggup dipungkiri bahwa Dara terbakar api cemburu. Walaupun ia sadar bahwa ia tak mempunyai hak untuk itu.
Reynand : cie cie cemburu nih ceritanya?
AdaraFr : idih pd amat sih anaknya pak Ahmad yang satu ini.
Reynand : ye segala bawa bawa bokap gue lagi
Reynand : apa salahku wahai anak muda #bokapbelike
AdaraFr : Hahah maap deh om, nggak bermaksud wkwk
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Ketika melihat tak ada jawaban dari Rey, Dara memutuskan untuk kembali berkencan dengan tugasnya sampai larut malam. Merasa bosan dengan kiprah yang menumpuk, Dara menentukan untuk menghentikan aktivitasnya sejenak dan beralih ke instagram yang ada di handphonenya. Terlihat bahwa Rey, tengah mengupdate stories yang menujukkan ia tengah berada di sebuah cafe bersama seorang perempuan. Ya, siapa lagi kalau bukan Fey.
“Katanya gabut, chat gue sok nggak direspon, eh taunya doi jalan sama gebetannya yang lain.”gerutu Dara. Dengan cepat ia menutup aplikasi tersebut, dan menentukan mendengarkan lagu yang ada di playlistnya. Dan ketika ini tengah terputar lagu yang bisa menciptakan Dara begitu mendalami liriknya. Lagu tersebut berjudul Ku Kira Kau Rumah karya sebuah grup band yang berjulukan Amigdala.
kau tiba tatkala
sinar senjaku telah redup
dan pamit ketika
purnamaku penuh seutuhnya

kau yang singgah tapi tak sungguh
kau yang singgah tapi tak sungguh

ku kira kamu rumah
nyatanya kamu cuma saya sewa
dari tubuh seorang perempuan
yang memintamu untuk pulang

kau bukan rumah, kamu bukan rumah
kau bukan rumah, kamu bukan rumah
Lirik tersebut seakan merepresentasikan perasaan Dara ketika ini pada Rey. “Ye, ini lagu napa bikin gue makin baper elah.” gerutu Dara dengan pelan.
“Udah ah, tidur aja deh gue. Yang ada capek hati capek pikiran gue kalau kayak gini terus.” Akhirnya, Dara memutuskan untuk menarik selimut, dan memeluk guling kesayangannya. Menandakan bahwa ia siap bergelut dengan imajinasinya malam ini.
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Benar saja, sampai sebulan lebih kedekatan antara Rey dan Dara, masih belum ada kejelasaan untuk kekerabatan mereka berdua. Entah sobat sahabat Dara menyebut bahwa ia terjebak dalam status friendzone atau apalah itu. Tak sanggup dipungkiri bahwa Dara juga membutuhkan kepastian mengenai statusnya dengan Rey. Ia sungguh ingin menanyakan hal tersebut pada Rey, tapi gengsi Dara kali ini lebih menang diatas segalanya.
Handphone Dara berdering pertanda bahwa terdapat sebuah panggilan masuk. Siapa lagi kalau bukan Rey. Dengan cepat, ia mengangkat panggilan tersebut.
“Ra, lo di rumah nggak?” tanya Rey di sebrang sana.
“Iya, nape?” jawab Dara sambil memakan kudapan yang sedang dipangkunya kali ini.
“Gue di depan rumah lo nih, cepet turun gih.”
Dara yang sempat terkejut mendengar penuturan Rey, ia pribadi berjalan menuju balkon kamarnya dan benar saja ia melihat Rey tengah bersandar pada kap kendaraan beroda empat hitamnya dan melambaikan tangannya pada Dara diikuti dengan senyuman manis yang selalu menciptakan hati Dara berdegup lebih kencang.
Tanpa basa-basi, Dara pribadi turun menuju depan rumahnya dan menghampiri pria tersebut.
“Ikut gue ke suatu daerah yuk Ra, lo ganti baju sana.” perintah Rey pada Dara, ketika ia melihat Dara hanya mengenakan baju tidur dengan celana pendek.
Mau tidak mau, Dara berjalan masuk ke rumahnya untuk mengganti pakaian yang tadi ia kenakan. Kali ini, Dara hanya mengenakan sweater putih, dengan celana jeans hitam dan tak lupa sepatu converse biru dongker kesukaannya. Ia hanya memoleskan sedikit saja make-up diwajahnya biar ia tidak terlihat terlalu pucat.
Saat ini, kendaraan beroda empat hitam milik Rey berhenti sempurna di depan gedung usang yang sepi dan tidak berpenghuni. Dengan raut wajah yang bingung, Dara berkata, “Lo ngapain kesini sih Rey?”
Rey hanya membisu dan tetap menggenggam lengan Dara sambil menuntunnya untuk mencari jalan yang pas menuju daerah tujuannya. Dan, disinilah mereka. Berada di sebuah rooftop dari gedung yang mereka lalui tadi. Nampak gedung-gedung pencakar langit lainnya disertai dengan lampu-lampu yang ramai menemani hiruk pikuknya kota Malang kali ini.
Dara seakan takjub melihat pemandangan yang cukup menarik malam ini. Ia mulai menatap ke atas langit, dan terlihatlah bintang-bintang yang bertaburan diatas gelap malam.
“Seneng nggak Ra?” tanya sang tuan sambil menatap sang puan yang masih dengan verbal takjubnya itu.
“Lucu.” batin sang tuan.
“Oh iya Ra, gue punya sesuatu nih buat lo. Tunggu bentar ya.” ucap Rey sambil mencari sesuatu yang ada di kantong celananya.
Hingga, nampaklah sebuah kalung dengan motif bulan yang sangat lucu dan elok didepannya. Rey  pribadi menawarkan kalung itu pada Dara seraya berkata, “Nih Ra, buat lo. Kemaren waktu gue jalan sama Fey, tiba tiba gue lihat kalung itu dan seketika keinget sama lo yang suka hal hal perihal astronomi, dan alhasil gue beliin tu buat lo. Itung itung kado ulang tahun lo ya kan?”
Dara yang sempat membeku mendengar penuturan Rey, dengan ragu ia mengambil kalung tersebut dan mengucapkan terimakasih. Perasaan Dara ketika ini sungguh campur aduk. Ia bahagia ketika sang mantan masih mengingat hari spesialnya, namun disatu sisi ia juga mencicipi sakit kita mendengar nama wanita lain yang terucap di bibir sang mantan yang ketika ini tengah duduk di sebelahnya.
“Sebenernya kita ini apa sih Rey?” tanya Dara yang sudah tidak besar lengan berkuasa menahan semuanya.
“Lo kadang deket sama gue, kadang deket sama Fey, kadang perhatian ke gue, kadang tiba-tiba ilang. Lo sebenernya nganggep gue apa Rey?” sambungnya.
“Raa—gu-e..” jawab Rey dengan gugup.
“Gue kadang ngerasa kalau gue milikin lo, tapi ternyata lo juga dimilikin sama orang lain. Satu bulan ini nggak  ada artinya buat lo ya Rey?”
“Hahah, emang cuman gue ya yang baper, harusnya gue sadar kalau dari dulu lo nggak pernah nganggep suatu hal dengan serius.” ucap Dara dengan diiringi tawa mirisnya.
“Ra—gue nggak berani memulai kekerabatan kita kayak dulu alasannya gue nggak mau nyakitin lo untuk kedua kalinya.” jawab Rey dengan lirihnya.
“Tapi, tanpa sadar lo udah nyakitin gue Rey bahkan untuk kesekian kalinya.” jawab Dara sambil bangun dari duduknya. Dengan segera, ia berjalan keluar gedung, tanpa menggubris Rey yang sedari tadi berteriak memanggil namanya.
Tibalah Dara di rumahnya, dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Dengan tangis yang terus menetes, seakan pertanda bahwa ia lelah dengan semua perlakuan Rey terhadapnya. Dan, seharusnya Dara tidak jatuh untuk kedua kalinya dengan orang yang sama.
Hari telah berlalu, dan ketika ini terhitung sudah satu ahad lamanya semenjak insiden yang sedikit drama berdasarkan Dara. Namun dibalik semua itu, ia merasa beruntung bahwa ia mempunyai sahabat menyerupai Keyla, yang bisa memahaminya dikala ia merasa terpuruk.
Dara juga sudah disibukkan kembali dengan tugas-tugas perkuliahannya serta rapat rapat sebagai anggota BEM. Dara berharap dengan semua kesibukkannya itu, sanggup menghilangkan nama Rey sejenak di pikirannya. Bahkan Dara tidak membalas pesan yang terakhir yang dikirim oleh sang pria tersebut. Disana tertera kata maaf yang dituliskan okeh Rey. Setelah melihat pesan tersebut, Dara menentukan untuk menghindar dari Rey, dan memulai kembali aktivitasnya.
Baik Dara maupun Rey tidak ada yang berani untuk meluruskan semuanya. Dara yang sudah cukup muak dengan perlakuan Rey, dan Rey yang tak cukup berani untuk sekedar menawarkan klarifikasi pada Dara. Rey berpikir bahwa, ia hanya akan semakin menyakiti hati sang wanita tersebut jikalau ia menemuinya.
Satu hal yang Dara yakini ketika ini, menjalani suatu kekerabatan sama halnya dengan membaca suatu novel. Ketika kalian menentukan untuk mengulangi suatu kekerabatan dengan orang yang sama, sama halnya dengan kalian membaca novel tersebut, dengan ending yang sudah kalian ketahui sebelumnya. Namun, semua tergantung pada diri kalian masing masing, kalian ingin menanggapi kekerabatan tersebut dengan perasaan yang sama atau tidak.
Dan berakhirlah kisah antara Rey dan Dara. Sebuah kisah klasik, perihal dua manusia yang hanya bisa menahan fatwa mereka masing-masing tanpa bisa mengutarakannya. Tidak, mereka bukan tidak saling percaya dan saling sayang. Mereka hanya terjebak dalam fatwa mereka masing-masing, jikalau kekerabatan tersebut diteruskan, mereka takut akan ada pihak yang tersakiti untuk kesekian kalinya. Baik itu pihak tuan maupun puan.
Penulis : AH
Profesional Bidang Sastra
Editor : RW
Power by

Download Free AZ | Free Wordpress Themes

Scroll to Top